Selasa, 01 Juli 2014

Masjid Peninggalan Bangsa Arab Dan India Di Jakarta

Ada dua mesjid di area Batavia Tua yang dibangun pada abad ke-18 dan 19, yaitu Mesjid An-Nawier dan Mesjid Langgar Tinggi di Pekojan, yang sekarang dikenal dengan nama Kampung Arab yang terletak di Jakarta Barat. Sebelum masyarakat Arab, lingkungan ini didominasi oleh kaum Muslim India dari Bengal. Berikut ini adalah beberapa masjid peninggalan bangsa arab dan india di Jakarta antara lain meliputi :

Masjid Langgar Tinggi

Nama Pekojan konon adalah kependekan dari kata “Khoja” atau “Kaja” sebuah area di India. Tetapi, “Khoja” ini juga adalah nama ikat kepala yang dikenakan oleh kaum pria di provinsi Banten. Itulah mengapa tentara Banten yang bertikai dengan Pangeran Fatahillah atau penemu Jakarta merasa aman tinggal di area ini. Tentunya, Jakarta dan Batavia menjadi pelabuhan internasional yang sibuk, penuh dengan para pedagang dari kelompok etnis yang berbeda-beda yang masing-masing membentuk komunitasnya dan kemudian bergabung di tempat yang dinamakan “Kampung”.

Berjalan dari mesjid ini ke mesjid Langgar Tinggi, kita akan melewati jembatan Kambing di atas sungai Angke. Jembatan ini dulunya menghubungkan kita ke tempat penjagalan kambing. Kini  tempat penjagalan ini sudah tidak ada lagi, namun masyarakat Arab yang masih tinggal di sini masih memelihara kambing dan memperjual belikannya, sebagaimana mereka telah melakukannya selama 200 tahun. Menjejaki di mesjid Langgar Tinggi atau Mesjid Tinggi, orang akan mengerti mengapa mesjid ini dinamakan demikian, tak lebih karena mesjid ini terdiri dari 2 lantai, yang amat jarang ditemukan di masa ini.

Mesjid Langgar Tinggi, yang treletak di sepanjang sungai Angke konon dibangun pada tahun 1829 AD (atau di 1249 H menurut kalender Islam). Lantai atas tempat orang shalat terbuat dari kayu dan masih dalam kondisi yang baik sampai sekarang. Sementara di lantai bawah, terdapat tempat untuk penjaga mesjid. Arsitekturnya adalah perpaduan antara moroislam dan kolonial yang menggunakan elemen  Cina dan Jawa. Desain pilarnya bergaya klasik Eropa, penyangga pilarnya bergaya Cina dan lantainya bergaya Jawa. Mimbarnya didatangkan dari Palembang, Sumatera Selatan.

Masjid An-Nawier

Mesjid An-Nawier-yang dikenal juga sebagai Mesjid Pekojan, di area Pekojan- dibangun tahun 1749 AD (atau 1880 H menurut kalender Islam), oleh Syarifa Fatimah binti Husen Al Idrus. Mesjid ini mesjid terbesar dan tertua di Jakarta serta memiliki elemen-elemen yang unik. Denah mesjid ini berbentuk L dengan kapasitas sekitar 2.000 orang. Atapnya disangga oleh 33 pilar, melambangkan 33 holy verses yang biasa dilantunkan setelah shalat selesai. Di luar mesjid terdapat kubah setinggi 17 meter menyerupai mercusuar. Menurut cerita yang beredar, pada masa lalu ketika berlangsung pemberontakan melawan Kolonial, tentara pejuang Indonesia biasanya berlindung di tempat sempit ini dan merasa nyaman.

Senin, 30 Juni 2014

Makanan Khas Betawi Yang Nyaris Punah

Tak bisa dipungkiri, bahwa salah satu daya tarik wisata di Jakarta adalah makanan khas Betawi. Meski masyarakat Betawi sendiri sudah semakin tergusur ke pinggiran akibat pembangunan kota, namun salah satu hasil budaya mereka berupa makanan khas Betawi masih bisa ditemukan di Jakarta. Bagi Anda yang sedang berkunjung ke Jakarta, maka jangan lewatkan kesempatan untuk berwisata kuliner mencicipi berbagai macam makanan khas Betawi.

Orang Betawi ternyata tidak hanya pintar dalam hal berbalas pantun, tapi mereka juga pintar membuat aneka kuliner yang lezat dan menggoyang lidah. Tak heran jika makanan khas Betawi banyak digemari oleh banyak orang dari berbagai latar belakang. Berikut ini adalah beberapa makanan khas betawi yang nyaris punah.

1.       Asinan Betawi

Asinan betawi adalah salah satu makanan yang paling dicari dan dirindukan oleh masyarakat Kota Jakarta, khususnya bagi para perempuan. Kesegaran campuran antara berbagai sayuran mentah, sawi asin, potongan tahu mentah dan kerupuk kuning dengan siraman bumbu kacang rasanya nggak akan pernah membuat kita menjadi bosan meskipun telah berkali-kali mencicipi makanan yang satu ini. Namun, sayang sekarang Asinan Betawi sudah jarang bisa ditemui di Jakarta. Di era tahun 90-an, Asinan. Betawi masih cukup mudah untuk diburu karena masih banyaknya orang berjualan makanan yang identik dengan kerupuk kuning atau yang sering disebut dengan kerupuk mi ini.

2.       Kue Pancong

Sepintas, penampilan Kue Pancong memang hampir sama dengan Kue Pukis. Yang membedakan kedua kue ini adalah rasa dan bahannya. Jika Kue Pukis memiliki rasa manis maka Kue Pancong terasa lebih gurih dengan sensasi parutan kelapa di dalamnya ketika dimakan. Untuk mereka yang ingin mendapatkan rasa manis, biasanya Kue Pancong dimakan dengan ditambahkan gula pasir di atasnya. Dengan atau tanpa gula pasir, semua tergantung selera masing-masing. Sama seperti Asinan Betawi, Kue Pancong ini juga sudah sulit untuk ditemui di Jakarta.


3.       Kembang Goyang

Bahkan, tidak semua orang keturunan Betawi tahu dan pernah mencicipi kue yang satu ini. Makanan lain yang sama sulitnya ditemukan di Jakarta adalah Kembang Goyang. Dibuat dari tepung beras, kue kering ini disebut Kembang Goyang karena ketika akan digoreng, cetakan digoyang-goyangkan di atas minyak panas agar adonan terlepas dari cetakan tersebut. Sekarang, kue dengan rasa yang tidak terlalu manis dan renyah ini sudah sulit untuk ditemukan di toko kue kering. Mungkin hanya mereka warga keturunan Betawi asli yang masih bisa membuat camilan ini. Jika kamu penasaran dengan kue yang satu ini, ketika Hari Raya Idul Fitri nanti, coba bertamu ke tempat kerabat keturunan Betawi (asli). Karena biasanya mereka masih menyajikan kue ini saat Lebaran.

4.       Kue Rangi

Bukan lagi jarang, tapi penjaja Kue Rangi seperti sudah menghilang dari Kota Jakarta. Kue yang didominasi parutan kelapa dengan tekstur kenyal ini, biasanya dinikmati dengan menggunakan gula merah cair kental di atasnya. Bentuk Kue Rangi hampir sama seperti Kue Pancong dan Kue Pukis, namun penampilannya lebih ramping mengingat bahan Kue Rangi tidak menggunakan telur atau tepung sedikitpun. Kue Rangi dimasak di atas kayu bakar, hal inilah yang membuat Kue Rangi memiliki bau dan rasa yang khas. Aroma kayu bakar seolah menyatu ke dalam Kue Rangi ketika disajikan. Namun sebaliknya ketika Kue Rangi ini dibakar di atas kompor, maka aroma khas kue ini justru menghilang dan malah mempengaruhi cita rasa dari kue tersebut.

5.       Sayur Babanci

Jangan mengaku orang Betawi kalau anda belum pernah mencicipi sayur yang satu ini. Disebut dengan Sayur Babanci karena hampir jenis bumbu ada dalam sayur ini sehingga rasanya tidak jelas, antara rasa kari atau sekadar sayur santan biasa. Selain itu, sayur ini disebut Babanci karena memang segala macam sayuran juga terdapat di dalamnya. Hanya orang Betawi (asli) yang masih tahu bentuk dan rasa Sayur Babanci tersebut. Hampir sama seperti Kembang Goyang, rasanya hanya orang keturunan Betaw (asli) yang masih bisa membuatnya. Di Jakarta pun tidak ada restoran yang menyajikan sayur ini. Padahal rasa sayuran yang kaya akan rempah-rempah dan gurih, sangat menggugah selera makan dan membuat makanan ini wajib untuk dicoba oleh semua para penggila kuliner.